Saturday, October 13, 2012

Cerpen Gue..

Gue pernah buat cerpen.. dulu sih..
Sebenarnya gue ngirim cerpen ini ke Dinas Pendidikan buat lomba.. Judulnya "Buah Kebohongan". Tapi kayaknya gue gak menang deh..
-____-.. Yahh.. ini emang cerpen gadungan kok,,, Hahaha

Cekidot!


Buah Kebohongan

       Sep, kamu gak keren ya? Masa’ handphone butut seperti itu masih kamu pakai?” ledek Toni.
“Iya nih Ton. Pengen sih handphone model-model baru dan keren jaman sekarang. Tapi, ya gitu, aku gak punya uang buat beli. Tahukan keadaan keluargaku?” jawab Asep.
       “Aku jadi kasihan sama kamu. Jalani ajalah, nasib.”
“Hmm,” balas Asep singkat.
Asep hanya meratapi nasibnya. Dari dulu Asep sangat ingin handphone baru, jam tangan keren, dan tas baru. Tapi dengan keadaan keluarganya yang tidak mampu, barang-barang tersebut sangat tidak memungkinkan untuk dimilikinya. Ayahnya hanya seorang tukang bakso. Dan Ibunya seorang karyawan minimarket. Asep, orang tuanya, dan kedua adiknya sangat hidup serba hemat dan keterbatasan.
Untung Asep murid berprestasi di sekolahnya. Asep juga anak yang rajin dan cerdas. Dia banyak menang olimpiade MIPA, sehingga dia banyak mendapatkan beasiswa untuk dapat bersekolah. Cita-cita Asep adalah dia ingin sekali menjadi seorang dokter. Sehingga dia sangat bersungguh-sungguh untuk mengejar prestasinya. Kedua orangtuanya dan keluarganya mendukung Asep untuk mengejar cita-citanya tersebut.
“Kriingg!”
Bel yang menandakan pulang sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas mereka masing-masing dan berlarian menuju gerbang sekolah. Ada yang di jemput orangtuanya, ada yang jajan dipinggir jalan, dan ada juga yang membawa sepeda sendiri.
“Sep, jajan yuk!” ucap Toni sambil menunjuk ke arah pedagang sosis goreng.
“Tidak ah, makanan di pinggir jalan itu tidak sehat tahu!” protes Asep.
“Keterlaluan! Mentang-mentang ya, mau jadi dokter!” jawab Toni singkat sambil meninggalkan Asep. Asep hanya meringis.
Selain makanan di pinggir jalan tidak sehat, alasan lain Asep adalah dia tidak punya uang. Dia tidak mau mendapatkan uang jajan dari orangtuanya. Dia berpikir lebih baik uang itu ditabung saja. Asep lalu berjalan kaki menuju arah rumahnya. Itu akan memakan waktu dua puluh menit untuk berjalan kaki dari rumahnya ke sekolah.
Sesampai di rumahnya, Asep melihat sekelilingnya, “Ibu belum pulang,” gumamnya. Kemudian Asep langsung berganti baju, sholat, dan makan siang. Makan siang Asep kali ini adalah makanan sisa semalam yang dipanaskannya.  Lalu dia menjemput kedua adiknya yang masih kecil yang biasa dititipkan di tetangganya dan mengganti baju mereka. Orang tua Asep jam pulangnya tidak menentu. Jika bakso ayahnya sedang laris, biasanya ayahnya pulang malam. Sedangkan ibunya pulang sore hari setiap harinya. Asep lalu menyuapi kedua adiknya. Setelah itu dia membereskan makan siangnya  dan mencuci semua piring. Kemudian Asep menemani adiknya tidur siang. Kegiatan seperti ini sudah biasa atau sudah kebiasaan Asep setiap harinya. Asep dari kecil sudah belajar mandiri.
Asep mengeluarkan buku-buku pelajaran sekolahnya dari tasnya yang sudah robek-robek. Dia mengulangi semua materi yang tadi dia pelajari dan mengerjakan pekerjaan rumahnya segera. Kemudian Asep berbaring di kasurnya dan tertidur lelap bersama adik-adiknya.
“Assalamu’alaikum.” Asep langsung terbangun mendengar suara itu.
“Wa’alaikumsalam, Ibu!” Asep berlari menuju arah ibunya, dan menyalimi ibunya.
“Bagaimana kerjaan Ibu?”
“Yah, alhamdulillah banyak pelanggan yang datang ke mini market.”
“Syukurlah,” Asep lalu mengambil tasnya dan menunjukkannya ke Ibu. “Bu, lihat ini! Tasku sudah robek-robek begini. Asep ingin tas baru bu.” Asep memohon.
“Nak, uang untuk kehidupan sehari-hari saja belum cukup, apalagi membeli tas. Nanti jika uangnya sudah cukup, akan ibu kabari ya.”
“Baik bu.” jawab Asep dengan tatapan kecewa.

*********

“Hei teman-teman! Pulang sekolah main ke rumahku yuk! Aku baru pindah rumah loh!” teriak Andi menyombongkan diri.
“Benarkah, asik! Rumahmu yang besar itu bukan?” tanya Toni. Andi lalu menganggukkan kepala.
“Ayo sep ikut!” ajak Andi.
“Baiklah.” jawab Asep.
Sepulang sekolah, Andi, Asep, Toni, dan teman-teman yang lain bermain ke rumah Andi. Sekalian belajar bersama karena ada Asep. Sehingga teman-teman bisa bertanya ke Asep.
Dari luar saja sudah kelihatan bahwa rumah Andi besar dan megah. Di depan rumahnya saja ada satpam yang menjaga. Pasti rumah Andi sangat mewah, pikir Asep. Benarlah, setelah masuk kedalam terlihat kemegahan rumah Andi yang luar biasa, menurut Asep. Asep tidak terhenti-hentinya melihat sekeliling rumah Andi.
“Bik! Buatkan es jeruk 1..2..3..6, 6 bik es jeruknya!” teriak Andi
“Iya den,” jawab pembantunya Andi. Wah, enak sekali ya kalau punya pembantu. Bisa main suruh, pikir Asep sambil senyam-senyum.
“Gimana, baguskan rumahku!” Andi menyombongkan diri.
“Iya Ndi, keren banget rumahmu.” jawab Toni terkagum.
“Iya dong. Bik mana cepetan!” balas Andi. Kemudian datanglah pembantunya dengan tergopoh-gopoh sambil membawa 6 es jeruk.
Andi lalu mengambil buku matematika dan fisikanya. Dan membawanya ke Asep.
“Sep, aku mau tanya tentang ini. Tolong bantu aku ya!”
“Oke, yang mana sih?” jawaban singkat Asep.
“Ini sep.” balas Andi
Sudah tidak terasa mereka belajar bersama sudah 4 jam. Setelah selesai, Asep minta izin pulang ke Andi dan orangtua Andi. Asep masih terbayang-bayang dengan bentuk rumah Andi. Dibandingkan rumahnya, rumah Andi lebih besar delapan kali daripada rumahnya. Sesampai di rumahnya, Asep langsung melakukan kegiatan sehari-harinya.

*********

“Ndi, aku boleh ke rumahmu lagi?” tanya Asep gugup.
“Buat apa?” tanya Andi baik.
“Begini, aku ingin menanyakan beberapa soal Bhs. Inggris. Kamu kan pintar Bhs. Inggris. Jadi aku ingin menanyakannya ke kamu. Kamu tahu kan jika aku sama sekali tidak bisa Bhs. Inggris?” jawab Asep masih gugup.
“Oke, baiklah.” jawab Andi singkat.
Sesampai di rumah Andi, Andi mengajak Asep untuk masuk ke rumahnya dan mengajak Andi untuk duduk di ruang keluarga. Andi berkata bahwa seluruh anggota keluarganya sedang pergi. Andi pun meninggalkan Asep dengan tujuan untuk ganti baju dan mencuci muka. Sepeninggal Andi, Asep lalu berkeliling rumah Andi sambil membawa tasnya. Kemudian Asep melihat sebuah kamar yang terbuka. Lalu Asep bertujuan untuk masuk ke kamar tersebut. Ketika sampai di depan kamar tersebut, Asep masih mempertimbangkan keinginannya. Masuk apa tidak ya? Kalau aku masuk, namanya lancang. Tapi aku penasarann, gumamnya. Kemudian Asep masuk ke kamar tersebut, dan melihat sebuah kamar yang sangat mewah, menurutnya. Asep berkeliling di dalam kamar tersebut dan tertarik untuk membuka sebuah lemari dari besi yang tidak terkunci. Ketika Asep membukanya, alangkah  kagetnya Asep. Dia kaget setengah mati. Dia hampir pingsan, mungkin. Yang dilihatnya adalah lemari yang penuh dengan bertumpuk-tumpuk uang seratus ribuan. Asep pun tergiur dengan bertumpuk-tumpuk uang tersebut. Tanpa pikir panjang, Asep langsung mengambil bertumpuk-tumpuk uang. Mungkin ada 5 tumpuk yang diambilnya. Ah, tidak akan ketahuan, pikirnya. Setelah itu Asep langsung menutup lemari dengan tergesa-gesa dan berlari keluar kamar tersebut kemudian duduk di tempatnya semula. Untung Andi belum datang, gumamnya kembali.
“Maaf menunggu lama.” Andi berbicara.
“Ah, ti,tidak apa-apa.” jawab Asep ketakutan.
“Sep, kamu kenapa sih? Wajahmu pucat sekali. Apakah kamu sakit?”
“I, iya. A, Aku agak tidak enak badan.” jawabnya terbata-bata sambil ketakutan. “Se, sebaiknya aku pu, pulang saja ya.” Asep langsung melengos pergi. Andi masih bingung dengan sikap Asep yang tidak biasa.
Dengan cepat Asep berlari meninggalkan rumah megah tersebut. Dia berlari dengan terbirit-birit. Ia masih tidak percaya dengan segepok uang yang Ia dapat. Lalu Ia mencari tempat yang agak sepi. Dan melihat uang yang ada di dalam tasnya. Ia pun menghitung uang yang ada di tangannya sekarang. 6 juta! Ini uang yang cukup banyak! Wah.. aku bisa beli handphone sekarang, gumamnya. Asep pun langsung pergi ke toko handphone yang cukup terkenal di wilayahnya.
“Ada apa dik? Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang pelayan toko.
“Anu, itu, saya mau membeli handphone. Yang paling baru yang mana ya mbak?” tanya Asep
“Kalau yang baru, yang ini saja dik! Harganya 6 juta rupiah. Lalu yang ini....” ucap pelayan toko tersebut.
“Ya sudah yang itu saja.” potong Asep cepat. Lalu menghitung uang sebanyak 6 juta rupiah.
“Ya, tunggu sebentar ya dik. Saya tuliskan dulu kartu garansinya.” ujar pelayan tadi. Sambil menunggu, Asep membayangkan kejadian yang terjadi tadi. Dia jadi merasa bersalah karena perbuatannya tadi. Tapi waktu tak dapat dimundurkan.
“Silahkan dik,” ucap sang pelayan sambil menyodorkan nota ke Asep. “Mau pakai simcard atau tidak?” lanjutnya.
“Boleh.” Kata Asep singkat.
“Silahkan dik.” kata pelayan tersebut menyodorkan handphone yang dibeli dan simcardnya. Dan Asep pun memberikan uang hasil curiannya tersebut.
Di jalan menuju rumahnya, Asep sangat ketakutan. Bagaimana jika ibunya curiga? Bagaimana kalo Dia ketahuan mencuri? Bagaimana pendapat ibu nanti? Tanyanya kepada dirinya sendiri. Sesampai di rumahnya Asep mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya.
“Asep? Sudah pulang nak? Darimana saja kamu?” suara ibu mulai terdengar di telinga Asep, seketika Asep bergidik ngeri.
“Anu bu, Aku dari rumah Andi tadi belajar bersama.” bohong Asep.
“Benarkah? Itu apa yang ada di tanganmu?” tanya ibu kepada Asep sambil menunjuk kearah handphone barunya. Mati aku! gumamnya ketakutan.
“In, ini handphone bu. Aku di kasih teman-teman Aku karena Aku banyak membantu mereka. Mereka baik sekali lo bu! Masa’ mereka patungan untuk membelikanku ini?” bohong Asep untuk yang kedua kalinya.
“Wah, teman-temanmu baik benar. Ya sudah, mandi sana!” perintah ibu.
“Baik bu.” jawab Asep dengan bertindak segera.  

*********
“Wah! Handphone kamu keren banget Sep!” seru Toni. “Kapan beli?” tanya Toni kepada Asep.
“Kemarin dong.” Asep menyombongkan diri.
“Dibelikan siapa?” tanya Toni lagi.
“Aku beli sendiri. Ini uang hasil tabunganku selama ini.” Asep berbohong lagi.
“Wow! Hebat bener kamu ini, Sep.” puji Toni. Asep hanya tersenyum untuk membalas perkataan temannya itu. Lalu Asep menghampiri Andi.
“Ndi, kemarin kan aku belum sempat bertanya-tanya padamu. Boleh aku datang ke rumahmu lagi? Yah, aku ingin bertanya banyak darimu tentang Bhs. Inggris. Kamu kan masternya Bhs. Inggris.” ucap Asep sambil memuji Andi.
“Boleh saja. Oh iya, kemarin kamu sakit apa sampai pucat begitu?”
“Itu... Kemarin aku hanya pusing. Ya, hanya pusing.” jawab Asep agak panik.
“Oh begitu, ya sudah nanti pulang sekolah langsung ke rumahku saja.” balas Andi.
“Oke.” ucap Asep sambil tersenyum.
Sepulang sekolah, Asep kembali lagi mengikuti Andi ke rumah Andi. Andi mengajak Asep masuk ke rumah dan menyuruh Asep untuk duduk di kursi di ruang keluarga. Lalu terdengar teriakan seorang wanita. Yang tak lain, pasti mamanya Andi.
“Andi! Kamu ngambil uang mama ya?” tanya mamanya Andi kepada Andi.
“Gak kok, memangnya hilang ma?” jawab Andi santai namun Asep gelisah.
“Iya Ndi! Uang mama hilang 6 juta. Bibik tidak mungkin mencuri, karena kemarin cucunya menikah. Papa ada di Singapur. Kakak pertukaran pelajar ke Korea. Cuma kamu yang ada di rumah Ndi!” jawab mamanya.
“Iya ma, aku memang di rumah kemarin. Tapi aku sama sekali tidak masuk kamar mama. Sumpah deh.” ucap Andi sambil mengacungkan jari telunjuk dant tengahnya. Kali ini keringat dingin mulai bercucuran di badan Asep. Asep sangat takut.
“Ya sudahlah, ikhlaskan saja. Mama pergi dulu ya Ndi.” jawab mamanya pasrah.
“Iya ma, hati-hati di jalan.” ucap Andi.
Sepeninggal mamanya Andi dan Andi, Asep hanya terduduk lemas. Dia sangat takut sekarang. Tapi dia masih sangat ingin untuk mengambil uang lagi. Ini yang terakhir kali, gumamnya. Dengan segala keberanian Asep, Dia pun melangkah mengendap-endap dan masuk ke dalam kamar tersebut. Ketika Asep hendak membuka lemari besi tersebut. Ada seseorang berteriak sekencang-kencangnya.
“MALLLLIIIIIIIIIIINNNNGGG!” teriak mamanya Andi. Asep sekarang mati rasa. SANGAT mati rasa.
“Jadi kamu yang mencuri uang saya ya?” tanya mamanya Andi kepada Asep yang sudah meringkuk ketakutan sambil menunjuknya.
“Ada apa sih ma? Astaga! Asep! Kamu pencurinya?!” tanya Andi tersentak kaget.
“Kurang ajar kamu ya!” hardik Andi.
“Ampun bu. Ampun ndi. Maaf bu. Saya minta maaf bu.” Asep meminta maaf sambil menangis.
“Lalu mana uangnya?” tanya mamanya Andi yang masih murka.
“Saya pakai bu, buat beli handphone.” kata Asep sambil menunjuk ke arah handphonenya.
“Ganti gak uangnya? Hah?! Ganti tidak!” teriak mamanya Andi dengan emosinya.
       “Saya kira kamu anak berprestasi dan baik! Ternyata saya sangat salah menilai kamu. Kamu anak yang sangat kurang hajar!” hardiknya. Asep hanya pasrah dihardik seperti itu.
“Bawa saya ke orangtua kamu!” Asep pun mengangguk pelan.

*********
“Astaga Asep! Kamu keterlaluan! Ibu kira ibu dapat memegang ucapanmu ke Ibu? Ya Allah, ini keterlaluan sekali Sep! Kamu mencuri!” teriak Ibunya dengan penuh amarah.
“Maaf bu, maaf bu, maaf bu”. ucap Asep terus menerus memohon.
“Ibu, tolong ganti uang atas kelakuan anak ibu yang kurang hajar itu ya! Tolong ajari dia bagaimana itu yang namanya jujur bu!” ucap mamanya Andi.
“Maaf bu kami tidak punya uang sebanyak itu. Kami ini orang miskin bu. Tolong maafkan anak saya. Atau ibu bisa mengambil handphone barunya tersebut.” mohon ibunya Asep ke mamanya Andi.
Dengan perasaan iba kepada keluarga Asep, mamanya Andi pun menjawab “Ya sudahlah, semua sudah berlalu. Saya ikhlas kok bu. Ambil saja uangnya. Yang penting jangan pernah mencuri uang orang lagi!” jawab mamanya Andi. Ibunya Asep pun sangat berterimakasih kepada mamanya Andi.
Setelah mamanya Andi pulang dari rumahnya yang sangat sempit tersebut. Kini giliran ibunyalah yang memarahinya habis-habisan.
“Kamu ini sangat memalukan Asep! Ibu malu kalau kamu berbuat yang kelewatan seperti ini. Malu Sep!” kata ibunya.
“Asep minta maaf bu. Asep tidak akan melakukannya lagi bu. Asep minta maaf bu.” Asep memohon-mohon kepada ibunya.
“Tidak apa-apa nak. Yang penting kamu sadar atas apa yang telah kamu perbuat.” ucap ibunya dengan bijaksana.
“Terimakasih bu. Asep sangat meminta maaf.” Jawab Asep lega.
“Iya nak. Oh iya ini ada beberapa barang yang ibu ingin berikan ke kamu.” Kata ibunya sambil menunjuk ke sebuah kardus. Asep berjalan ke arah kardus tersebut dengan rasa penasaran dan membuka isinya. Terlihat isinya adalah tas baru, sepatu baru, baju baru, jam baru, dan semua barang yang Asep inginkan selama ini.
“Bu, ini ibu dapat dari mana?” ujar Asep sambil tersenyum sumeringah.
“Ibu membelinya nak.” kata ibunya.
“Tapi uangnya...” kata Asep sambil melihati ibunya. Ibunya tidak membalas lagi. Namun Asep  merasa ada yang tidak biasa di penampilan ibunya.
“Ibu?” kata Asep. Ibu pun menengok ke arah Asep. “Apakah ibu menjual cincin kawin ibu?” tanyanya.
“Iya Asep.” jawab ibu singkat.
“Mengapa ibu menjualnya? Itu kan satu-satunya perhiasan ibu!” tanya Asep sedih.
“Asep, ini semua buat kamu nak. Ibu kan sudah berjanji akan membelikan barang yang Asep inginkan. Tapi ibu tidak punya uang nak. Jadi ibu jual saja cincin kawin ibu. Ibu merasa bersalah karena tidak menepati janji dengan segera.” ucap ibu panjang lebar sambil memeluk ibunya.
“Ibu, Asep minta maaf ya bu atas semua kesalahan Asep terhadap ibu.” ucap Asep terisak.
“Ya, Nak. Ibu akan memaafkan semua tingkah lakumu yang buruk, semuanya pokoknya. Ibu sayang Asep kok. Ibu hanya tidak mau Asep melakukan tindakan seburuk itu.”
“Asep juga sayang ibu. Asep minta maaf kepada ibu atas segala perbuatan Asep yang buruk bu. Asep sangat merasa bersalah bu. Asep tidak tahu bagaimana cara mengganti segala jasa-jasa ibu yang telah ibu berikan kepada Asep. Terimakasih Ibu.”
“Iya nak. Iya.” balas ibunya dengan suara pelan, namun lembut.

***TAMAT***

No comments:

Post a Comment